Jumat, 12 Oktober 2012

Bahasa Indonesia : Unsur Intrinsik "Hikayat Panji Semirang"


 1.    Tema

Kedengkian membutakan mata hati seseorang.
2.    Alur

Maju, Karena rangkaian ceritanya dimulai dari yang paling awal sampai peristiwa terakhir.
3.    Penokohan

Ð Galuh Ajeng       : Jahat, iri hati, licik
Ð Cendera Kirana : Lemah lembut, sopan, baik hati
Ð Paduka liku         : Jahat, pendendam , licik, Iri hati
Ð Sang Ratu           : Baik, penyayang
Ð Sang Nata           : Baik, bijaksana
Ð Menteri                 : Jahat, pantang menyerah
Ð Petapa                 : Sakti
 4. Setting

Ð Tempat     : Kerajaan Negeri Daha, hutan
Ð Waktu       : Siang, Sore, dan Malam hari
5.    Point of View
Orang ketiga , Pengarang berperan sebagai pengamat
6.    Gaya Bahasa

Mudah dipahami dan menggunakan bahasa melayu
7.  Amanat

Ð Janganlah menjadi orang yang pendendam dan iri hati
Ð Janganlah mencelakakan orang lain yang senantiasa baik kepadamu
Ð Janganlah merebut kebahagiaan yang telah menjadi milik saudaramu sendiri
Ð Kita tidak boleh memaksakan kehendak keada orang lain
Ð Milikilah hati yang baik, lemah lembut dan bertingkah laku santun
8. Suasana 
Membahagiakan, Mengkhawatirkan
9.    Sinopsis
Hikayat Panji Semirang
Galuh ajeng bertambah sakit hatinya ketika mendengar Galuh Cendera kirana sudah bertunangan dengan Raden Inu dan bukan dengannya.
Pada suatu hari Sang Nata , Cendera kirana dan Sang Ibu sedang makan bersama , Paduka liku dan Galuh Ajeng bertambah iri kepada Cendera Kirana.
Usai makan, Paduka liku membuat tapai yang sudah diracuni dan menaruhnya dalam bokor emas, Lalu Dia menyuruh dayang-dayang untuk membawakannya kepada Permaisuri. Usai melaksanakan tugasnya, dayang-daynag lalu melapor kepada Paduka liku, Mendengar laporan tersebut , Paduka liku sangat senag, Dia ingin membuat Permaisuri dan Cendera Kirana mati karena keracunan.
Setelah itu, Paduka liku berencana mencari tukang tenung untuk mengguna-guna Permaisuri dan Sang Nata. Lalu Dia menyuruh Saudaranya yang bvernama Sang Menteri untuk mencarikan Tukang tenung. Lalu bergegaslah Ia pergi, Setelah beberapa lama mencari , Akhirnya Ia bertemu dengan Sang Pertapa, Lalu oleh Sang Pertapa , Dia disuruh untuk memungut sepah sirih dengan kain. Hati menteri sangat senag, Lalu Dia kembali ke Istana untuk memberikannya kepada Paduka liku.

Kamis, 11 Oktober 2012

Akutansi X : Neraca Saldo


1. Definisi Neraca Saldo

Neraca saldo ialah suatu daftar yang berisi saldo-saldo sementara setiap akun buku besar pada suatu saat tertentu.
Kapan neraca saldo itu disusun? Neraca saldo biasanya disusun pada akhir periode akuntansi, yang bertujuan untuk memeriksa kesamaan jumlah saldo debet dengan saldo kredit. Untuk jelasnya Anda amati contoh neraca saldo berikut ini.
Bentuk Neraca Saldo
Neraca berbentuk suatu daftar yang di dalamnya berisi nama perusahaan (nama) Neraca Saldo, periode akuntansi, dan format dengan lajur (kolom) terdiri dari no. akun, akun, debet dan kredit.

2. Penyusunan Neraca Saldo

Bagaimana cara menyusun Neraca Saldo? Penyusunan neraca saldo cukup mudah bila buku besar yang dibuat adalah Buku Besar Berlajur Saldo (bersaldo). Sedangkan yang berbentuk skontro atau T sederhana, terlebih dahulu dihitung saldonya yaitu dengan cara menghitung selisih antara jumlah sisi debet dan kredit. Perhatikan contoh Buku Besar Bersaldo berikut ini secara mendalam.
Penyusunan neraca saldo perlu diperhatikan juga nomor akunnya agar disusun secara sistematis dengan urutan nomor akun, aktiva (harta), utang, modal, pendapatan dan beban. Bagaimana? Berdasarkan contoh di atas dapatkah Anda mengerti? kalau belum, Anda ulangi mempelajari contoh di atas dan perhatikan tanda panah pada diagram yang disediakan.
Untuk lebih mendalami materi ini, berikut ini disajikan buku besar bersaldo yang selesai diisi. Berdasarkan buku besar berikut ini Anda diminta menyusun neraca saldo sebagai latihan 1.
Neraca saldo menunjukkan saldo masing-masing perkiraan. Saldo debet dan saldo kredit ini secara total harus sama jumlahnya pada neraca saldo. Neraca saldo merupakan dasar untuk penyusunan laporan keuangan yang dibuat secara periodik. Neraca saldo ini sendiri terbagi dua, yaitu neraca saldo sebelum disesuaikan (unadjusted trial balance) dan neraca saldo yang telah disesuaikan (adjusted trial balance).
Tujuannya:memeastikan bahwa bku besar telah seimbang. Neraca saldo setelah penutupan hanya akan terdiri atas akun-akun neraca saja, yaitu aktiva, kewajiban dan modal. Akun-akun pendapatan / pnjualan dan unsur-unsur HPP,beban, serta prive telah ditutup dan bersaldo nol. Neraca saldo pnutup dpt dibwat dgn mngmbil saldo-saldo akun di buku  besar setelah ayat jurnal penutup dibukukan. Saldo-saldo tsb dpt diambil dari kolom neraca di kertas kerja

Kalimat Tunggal dan Kalimat Majemuk



Ø  Kalimat berdasarkan jumlah klausanya, ada 2 macam yaitu :
  1. Kalimat tunggal : kalimat yang terdiri atas satu klausa
  2. Kalimat majemuk : kalimat yang terdiri atas dua klausa atau lebih.
Ø  Contoh:
  1. Ia sudah pulang sebelum pekerjaannya  selesai.
S            P                                 S                P
Pola kalimatnya     S  P     K
                                            SP
Ada dua klausa, yaitu :
-          Ia sudah pulang. Induk kalimat
-          Pekerjaannya selesai. Anak kalimat
            Termasuk kalimat majemuk bertingkat hubungan waktu.
  
  1. Setiap hari ia selalu membaca buku pelajaran di rumah. Kalimat tunggal
  2. Ketika Maria menangis, menghadap tembok, ibunya masuk diantar suster Meta.
-          Maria menangis.
-          Maria menghadap tembok.
-          Ibunya masuk
-          Ibunya diantar suster Meta.
  1. Ketika pertunjukan terbang indah selesai, pesawat-pesawat itu mendarat, berhenti, dan berjajar di depan panggung kehormatan.
-          Pertunjukan terbang indah selesai.
-          Pesawat-pesawat itu mendarat.
-          Pesawat-pesawat itu berhenti.
-          Pesawat-pesawat itu berjajar di depan panggung kehormatan.
Ø  Kalimat majemuk :
  1. Kalimat majemuk setara ( koordinatif ):
    1. Setara menggabungkan : dan, serta, kemudian, sesudah itu
    2. Setara memilih : atau
    3. Setara mempertentangkan : tetapi, akan tetapi, melainkan, sedangkan
  2. Kalimat majemuk bertingkat ( subordinatif ) :
    1. Hubungan waktu : ketika, tatkala, sejak, sesudah, sebelum, semasa
    2. Hubungan sebab : sebab, karena
    3. Hubungan akibat : hingga, sehingga, maka, sampai
    4. Hubungan Syarat : jika, jikalau, apabila
    5. Hubungan Penjelasan : bahwa, yang
    6. Hubungan cara : dengan
    7. Hubungan konsesif/perlawanan : meskipun, walaupun, biarpun
    8. Hubungan perbandingan : seperti, bagai, laksana, ibarat
  3. Kalimat majemuk campuran ( setara dan bertingkat )
Kalimat majemuk setara : tidak mempunyai anak kalimat dan induk kalimat.
Kalimat majemuk bertingkat : mempunyai anak kalimat dan induk kalimat.
Anak kalimat cirinya : klausa yang hubungannya dekat dengan konjungsi.

Ø  SOAL
Sebutkan ada berapa klausa kalimat berikut ini !
Termasuk kalimat tunggal ataukah majemuk ?
Sebutkan anak kalimat dan induk kalimatnya!
Sebutkan pola kalimatnya!
Ø  PEMBAHASAN
  1. Aku melompat dari anak tangga kemudian berlari ke halaman.
         S         P                    K                                   P          K
      Pola kalimatnya : S P K – P K
      Termasuk kalimat majemuk setara menggabungkan.
  1. Adikku belum bersekolah tetapi sudah dapat membaca surat kabar.
     S                  P                                         P                         O
Pola kalimat : S P – P O
Termasuk kalimat majemuk setara mempertentangkan.
  1. Beliau sedang melamun atau memikirkan saya?
                S                   P                             P            O
            Pola kalimat : S P – P O
            Termasuk kalimat majemuk setara memilih.
  1. Pak Hamid menyayangi semua muridnya seperti dia menyayangi anak

kandungnya.
  1. Walaupun hatinya sedih , ia tidak pernah menangis di hadapanku.
                                  S         P       S                 P                            K
            Pola kalimat :  K   S P K
                                   SP
            Termasuk kalimat majemuk bertingkat hubungan konsesif
             Induk kalimat :Ia tidak pernah menangis di hadapanku
             Anak kalimat : Hatinya sedih.
  1. Sanusi datang tepat pada waktunya sebelum kejemuan mampu mengubah niatku.
   S          P                  K                                       S                      P                   O
Pola kalimat : S P K      K
                                                S P O
            Termasuk kalimat majemuk bertingkat hubungan waktu
            Induk kalimat : Sanusi datang tepat pada waktunya
            Anak kalimat : Kejemuan mampu mengubah niatku
  1. Sejak pagi hari ia mengurung diri di dalam kamarnya dan tidak mau makan
K            S         P                      K                                              P
apa pun.
    O
Pola kalimat : K S P – P O
Termasuk kalimat majemuk setara menggabungkan

  1. Pemburu  itu menunggu di atas bukit kecil dengan jari telunjuknya melekat pada
S                P                   K                                        S                    P
pelatuk senjatanya.
                K
Pola kalimatnya : S P K  K
                                        S P K
Termasuk kalimat majemuk bertingkat hubungan cara
Induk kalimat : Pemburu itu menuggu di atas bukit kecil
Anak kalimat : Jari telunjuknya melekat pada pelatuk senjatanya

  1. Orang yang duduk di tepi kolam dan membaca-baca majalah itu adalah tetangga
    S              P              K                                  P                      O                     P
 baruku.
Pola kalimatnya :       S                  P
                             SPK – PO
Termasuk kalimat majemuk campuran
Induk kalimat  : Ia adalah tetangga baruku
Anak kalimat   : Orang yang duduk di tepi kolam dan membaca-baca majalah itu
  1. Duta besar itu menekankan bahwa pemerintahnya akan membantu peningkatan kesejahteraan masyarakat pedesaan.






Laporan Praktikum : OSMOSIS


A.   Tujuan
Untuk mengetahui bagaimana cara air dapat masuk ke tubuh tumbuhan dan factor yang mempengaruhinya
Rendaman Kentang dan Larutan
B.   Alat dan Bahan
-          Kentang
-          Gula
-          Air
-          PVC/Pipa/panjangnya 5 cm
-          Neraca o’hauss
-          Penggaris
-          Kaca
-          Cutter atau pisau
C.   Cara Kerja
1.      Pertama, buat kentang menjadi berbentuk silinder menggunakan PVC dan pisau atau cutter
2.      Pastikan panjang kentang 5 cm. Lalu timbanglah berat kentang
3.      Setelah itu, buatlahn;arutan gula dengan 5%, 10%, 15% konsentrasi gula
4.      Masukkan kentang ke dalam larutan gula 5%, 10%, dan 15%. Dan masukkan kentang ke gelas berisi air murni dan di gelas kosong (berisi udara)
5.      Tunggu sampai 24 jam, setelah itu keluarkan kentang dari larutan gula, air murni dan udara.
6.      Keringkan kentang menggunakan tissue
7.      Setelah itu ukur ulang kentang. Tulis perbedaan berat kentang sebelum dan sesudah dimasukkan ke larutan gula
D.   Experimen Result
Tabel Pengamatan Perubahan Berat Silinder Kentang
Nomor Silinder
Larutan
Berat
Berat (Differences)
Kondisi
Keras/Lembut
Sebelum
Sesudah
1
Air
6,57 g
6,94 g
+0,37 g
Keras
2
5% Gula
6,68 g
6,9 g
+0,22 g
Keras
3
10% Gula
7,33 g
7,12 g
-0,21 g
Lembut
4
15% Gula
6,91 g
6,6 g
-0,31 g
Lembut
5
Udara
6,24 g
5,8 g
-0.44 g
Keras


E.   Pertanyaan
1.      Silinder kentang manakah yang mengalami kenaikan berat?
2.      Buatlah hipotesis yang menjelaskan bagaimana silinder kentang mengalami kenaikan berat?
3.      Jika Hasil pengamatan terhadap silinder kentang 4 dan 5 dalam aktivitas ini sama yaitu silinder 5 menjadi kecil karena kehilangan air melalui penguapan. Bagaimana pendapatmu tentang silinder 4 di dalam larutan gula 15%?
4.      Apa kesimpulanmu mengenai hasil percobaan untuk silinder 1-5?
F.    Jawaban
1.      Silinder kentang 1 dan 2
2.      Karena kentang menerima tambahan air dari larutan air murni dan air gula 5%, yang mana larutan tsb memiliki konsentrasi yang lebih rendah daripada konsentrasi kentang. Sehingga dalam gelas ini terjadi osmosis dair larutan ke silinder kentang. Osmosis (penambahan air) ini menyebabkan struktur kentang menjadi keras.
3.      Dari data diatas, berat dari silinder ke 4 berkurang, dikarenakan silinder kentang kehilangan air. Konsentrasi larutan gula lebih besar daripada konsentrasi kentang, sehingga terjadi osmosis air dari kentang ke larutan gula, osmosis ini yang menyebabkan kentang menjadi lembut.
4.      Pada percobaan osmosis, penambahan berat dan pengurangan berat dari kentang terjadi karena perbedaan konsentrasi zat antara kentang dan larutan, yang menyebabkan osmosis terjadi.